Mulai
menulis lagi, namun entahlah, aku bingung harus mulai dari mana, kenapa setiap
kutatap barisan keyboard ini selalu huruf – huruf itu membentuk namamu. Iya,
namamu. Aku tak tau dan juga tak mau tau hanya aku mencoba untuk mengerti apa
yang sedang terjadi ketika hati dan kepala mulai tak lagi saling bicara. Gila
memang memikirkannya tapi tetap saja bayangannya kian nyata, mengganggu setiap
mimpi di tidur malamku, menghantuiku dari sudut gelap bayang – bayang kamarku
ada di bawah ranjangku, di kolong lemariku, bahkan selalu berlari di dalam
kepalaku membuat aku lelah dan ingin menyerah.
Perjalanan
yang telah kulalui dalam sunyi dan sepi hanya berteman rasa yang hampir mati,
namun semua berakhir begitu saja, aku tak pernah tau ujungnya, namun bukankah
kita semua tak tau apa ujung dari perjalanan kita? Karna semua sudah digariskan
olehNya, kita hanyalah pembaca tanda, tanda yang tersirat dan tersurat, kita
hanyalah pencari makna dari arti semua yang bergerak diantara gugusan bintang –
bintang dan berlarian diantara rerumputan.
Diantara
rindu dan hampa, disitulah aku kini berdiri, sendiri, hanya seorang diri,
mencoba membaca, mencoba mencari dan merangkai kata yang tersembunyi diantara
mega, merangkai makna di balik indahnya lembayung senja dan mencoba berjalan
menapaki setiap jejak yang kau tinggalkan. Aku mengikutimu, aku mengawasimu.
Dan aku mengagumimu meski dari jauh, meski aku harus meringkuk di sudut gelap
hatimu.
Mungkin
kau pernah menganggap aku, namun aku tau, posisi yang tepat bagiku adalah
sebagai hantumu, bukan untuk menakutimu, namun untuk selalu menjagamu dalam
setiap lelap malam di tidurmu, aku hanya sebagai cerminmu, yang kau lihat
ketika kau merasa tak yakin dengan penampilanmu, aku hanyalah kompas bagimu,
yang aku tau, ketika kau tersesat kau dapat mengandalkanku untuk menemukan
jalan pulang. Selain itu aku bukan siapa – siapa bagimu. Aku bukan apa – apa
untukmu.
Andai
saja kau tau, muara dari seluruh hulu rasaku hanyalah dirimu, didalam sana aku
merasa akan mendapat ketenangan, namun jika kau tak mengizinkan, apalah dayaku.
Mungkin aku harus terus berlari agar aku jatuh lelah dan tak sanggup lagi
berdiri, atau aku harus pergi jauh dari semua ini agar aku tak lagi melihat
pesonamu. Tapi apapun itu aku bersyukur mengenalmu.
Sebab,
cinta abadi adalah cinta yang tak pernah terungkap karena dia tak pernah
berawal maka dia tak akan pernah berakhir
-ditulis dengan kepala dan hati yang masih tak
saling bicara-

